Anggrek Sub – Tribe Dendrobiinae dan Penggunaannya Secara Tradisional

PAI
September 11, 2016
bulbophyllum-macranthum-med
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit
November 21, 2016

Pengenalan

Anggrek dikenal sebagai tumbuhan terbesar di dunia dengan anggotanya yang diperkirakan mencapai puluhan ribu spesies, tersebar hampir diseluruh belahan dunia kecuali daerah ekstrim seperti gurun pasir dan gurun es. Selama ini anggota dari famili Orchidaceae tersebut dikenal sebagai tanaman eksklusif baik dikalangan botanis maupun masyarakat secara umum. Karakteristik tanaman yang unik serta didukung bentuknya yang eksotis dan indah menjadikan tanaman yang umumnya tumbuh secara epifit ini sebagai salah satu komoditi tanaman hias yang menarik. Anggrek sebagai tanaman hias menempati dunia besarnya sendiri dengan penggemarnya yang antusias dan terpisah dari tanaman hias pada umumnya, baik dari segi perdagangan maupun komunitas anggrek itu sendiri.

Sejak pertama kali anggrek dikenal dan dibawa orang – orang eropa pada awal abad ke – 18 anggrek sudah menjadi primadona dikalangan bangsawan barat. Kegunaannya juga diketahui sangat beragam mulai dari tanaman hias sampai obat kanker.

Epidend roideae adalah salah satu sub-famili dari famili Orchidaceae yang anggota cukup terkenal dan anggotanya banyak digunakan sebagai tanaman hias, selain itu beberapa jenis khususnya dari sub-tribe Dendrobiinae yaitu genera Dendrobium dengan anggota sekitar 1400 spesies (genera anggrek tersebar kedua di Asia Tenggara) diketahui memiliki banyak kegunaan dalam masyarakat tradisional.

Kelengkapan Ritual

Dilaporkan bahwa di daerah Asia bagian utara beberapa spesies Dendrobium digunakan sebagai kelengkapan ritual keagamaan oleh dukun dan tabib. Di China, ramuan herbal yang menggunakan anggrek telah lama dikenal dan telah ditulis sejak jaman Confucius (awal peradaban Kong Hu Cu). Bhiksu di Srilanka menggunakan bunga Dendrobium maccarthiae untuk memperindah tempat pemujaan dalam memperingati ulang tahun Sang Buddha. Jepang mengenal Dendrobium moniliforme sebagai simbol umur panjang dan digunakan untuk menghias kuil.

Dendrobium macraei digunakan oleh Kaum Ayurvedic di India sebagai campuran herbal untuk meramal masa datang. Beberapa suku disekitar Malesia juga menggunakan spesies Dendrobium lokal di daerah mereka sebagai jimat untuk mempersatukan kembali dua pasangan yang telah berpisah, menyemangati kepala pemburu, meningkatkan kemampuan anjing pemburu, dan mengusir setan jahat serta roh gentayangan. Jus dari batang D. Affine digunakan masyarakat Pulau Arnhem untuk bahan perekat dalam pengecatan batu untuk keperluan upacara adat mereka. Suku Aborigin di Australia menggunakan Umbi Semu dari D. canaliculatum dan D. speciosum sebagai makanan mereka. Suku di Malesia memasak nasi dan daun dari D. crumenatum digunakan sebagai tonik di Vietnam.

Sebagai Aksesoris dan Kerajinan Tangan

Genera Dendrobium juga banyak dipergunakan sebagai aksesoris pakaian dan kerajinan tangan khususnya di daerah selatan Asia seperti Indonesia, Kepulauan Pasifik dan Australia. Suku di Pulau Andaman menggunakan tandan tua dari D. crumenatum sebagai dasi untuk pria. Potongan batang yang telah dikeringkan dari D. discolor digunakan untuk mengikat senjata oleh suku primitif di bagian utara Queensland. Orang Philipina menggunakan batang kering dari D. heterocarpum sebagai ikat pinggang untuk mengikat pinggul mereka.

Di Indonesia D. acuminatissimum, D. bifalce, dan D. macrophyllum digunakan sebagai bahan dasar tenunan. Masyarakat Maluku mengenal D. faciferum sebagai bahan baku untuk membuat keranjang, alas kepang, dan anyaman. Sementara di Philipina D. crumenatum digunakan untuk membuat topi dan alas dari serat yang dihasilkannya, dan juga D. polytrichum digunakan untuk bahan tenunan disana.

Masyarakat di daerah Australanesia juga menggunakan serat dan batabg beberapa jenis Dendrobium yang telah menguning sebagai gelang, alas tidur, dan juga aksesoris panah dan tongkat komanda. Dendrobium utile (syn. Diplocaulobium utile) merupakan tanaman penting bagi suku – suku di Sulawesi dan Kalimantan, seratnya yang telah mengering dan kuning digunakan sebagai pinggirin untuk barang – barang yang berukuran kecil seperti keranjang dan tempat rokok. Kelangkaan tanaman ini di Sulawesi menyebabkan barang –  barang yang menggunakan bahan dasar tanaman tersebut dianggap berharga, mahal, dan hanya digunakan oleh kaum bangsawan.

Herbal dan Kejantanan

Anggrek dari subtribe Dendrobiinae telah digunakan secara ekstensif sebagai obat dan suplemen kesehatan di Cina  dan sekitarnya. Shih – Hu (Obat yang menggunakan bahan dasar puluhan jenis Dendrobium khususnya Dendrobium nobile) menyandang predikat obat yang berharga dan telah digunakan semenjak zaman Dinasti Han (200 SM). Beberapa spesies Dendrobium yang bersangkutan telah dibudidayakan untuk dikirim ke daerah dimana banyak terdapat komunikasi Etnik Tionghoa yang tersebar di seluruh dunia, sementara Den. moniliforme masih mengandalkan kiriman dari Jepang. Shih – Hu artinya ‘ Batu Kehidupan’, mengacu kepada tanaman tersebut yang memiliki sifat tahan suhu dingin dan menguatkan yang sesuai dengan doktrin ketimuran dimana suatu sifat ke’obat’an tanaman tersebut harus sesuai dengan karakteristiknya. Secara tradisional digunakan sebagai tonik untuk mempertkuat sistem yin yang berhubungan dengan umur panjang dan kejantanan. Den. nobile mnegandung beberapa alkaloid, salah satunya adalah dendrobine yang mengandalikan dan memicu aktifitas farmalogikal.

Di Papua Nugini daun dari Dendrobium sp. Digunakan untuk meredakan batuk dan juga beberapa spesies dari seksi Monanthos digunakan untuk menghentikan pendarahan dalam. Orang India menggunakan Den. moschatum  digunakan untuk mengobati sakit telinga. Den. bifarium, Den. planibulbe, dan Den. purpureum digunakan sebagai obat untuk berbagai macam penyakit kulit di Indonesia. Den. crumenatum digunakan sebagai obat untuk sakit telinga dan peradangan  pada telinga di Malaysia dan Jawa. Di Queensland dikenal Den. discolor sebagai obat infeksi dan minyak gosok untuk infeksi cacing gelang. Den. hymenanthum digunakan untuk menggunakan penyakit edema / busung air di daerah Malaysia bagian barat. Den. subulatum digunakan di Malaysia untuk meredakan sakit kepala, dan di Tahiti daun Den. crispatum yang telah dimemarkan digunakan untuk menghilangkan sakit kepala dan sakit akut. Den. taurinum di Philipina digunakan untuk mengatasi kerontokan. Beberapa jenis anggrek juga digunakan sebagai obat kejantanan seperti Den. chryseumdi India, Den. moniliforme di Taiwan dan Korea, dan Den. nobile di Cina.

Bahan Pustaka:

Lavarack, Bill ; Wayne Harris, Geoff Stocker : “Dendrobium and It’s Relatives”,
Timber Press, Portland, Oregon – USA, 2000