Festival Anggrek Vanda tricolor 2018
September 10, 2018
Festival Anggrek 2018 – PAI KalSel
September 19, 2018

Sarana & Prasarana Budidaya Anggrek

Anggrek adalah komoditas tanaman hias yang penggemarnya banyak, namun teknik budidayanya sangat sulit. Banyak rumah di kompleks perumahan di Jakarta yang halamannya ditumbuhi anggrek warna-warni. Umumnya yang mereka tanam adalah dendrobium hibrida. Umumnya mereka juga membeli tanaman ini sudah dalam bentuk tanaman dewasa dan sedang berbunga. Kemudian ibu rumahtangga ini menaruhnya di halaman rumah. Bisa tetap dalam pot dan digantung di pagar, bisa pula ditempel di tembok atau batang pohon. Apabila kondisi agroklimatnya cocok dan sinar mataharinya juga pas, maka tanaman yang asal ditempe itu akan tetap bisa hidup. Kalau pembantu rumah tangga di rumah tersebut rajin menyiram dan memupuk, biasanya tanaman tersebut juga rajin berbunga.

Hingga sebenarnya, menanam anggrek beberapa pot tanaman di halaman rumah tidak terlalu sulit. Asalkan yang dibeli berupa tanaman dewasa yang sudah berbunga. Tanaman  anggrek uang dipasarkan ke para ibu rumahtangga ini ada dua macam. Pertama tanaman tersebut potplant. Artinya tanaman anggrek tersebut sejak awal diseleksi, diperbanyak dan dibudidayakan sebagai tanaman hias dalam pot (potplant). Tetapi kadang-kadang, tanaman anggrek itu merupakan limbah dari agroindustri bunga potong (cutflower). Kalau potplant bentuknya kompak dan mungil, maka limbah cutflower ini bulb nya besar dan panjang-panjang, dengan bekas potongan tangkai bunga yang sangat banyak. Tangkai bunga potplant pendek dengan jumlah kuntum kurang dari 10. Sementara limbah cutflower, bertangkai panjang dengan jumlah kuntum sampai belasan. Harga limbah cutflower pasti lebih murah dibandingkan dengan anggrek potplant.

Para penggemar anggrek, kadangkala membeli tanaman yag masih muda dan belum berbunga. Ada tanaman yang sudah siap berbunga, namun ada pula yang masih sangat kecil karena baru saja dikeluarkan dari botol. Benih anggrek memang hanya bisa disemai dalam botol. Baik benih dari biji maupun dari hasil perbanyakan melalui kultur jaringan. Biji anggrek atau potongan khalus hasil kultur jaringan itu dimasukkan ke dalam botol yang telah diisi media agar, kemudian botol ditutup rapat dan ditaruh tidur dalam rak khusus. Proses pemasukan media dan benih ke dalam botol serta penutupannya, dilakukan dalam lab hingga tidak terjadi kontaminasi. Dibanding dengan membeli tanaman jadi yang sudah berbunga (meskipun limbah cutflower), membeli tanaman kecil yang belum berbunga (seedling) atau benih dalam botol pasti lebih murah. Selain itu, merawat anggrek sejak dikeluarkan dari botol dan kemudian sukses berbunga, pasti akan sangat menyenangkan.

Namun  yang terjadi justru sebaliknya. Tanaman muda yang belum berbunga, atau tanaman kecil, lebih-lebih yang baru dikeluarkan dari botol, memerlukan agroklimat khusus. Yang disebut sebagai agroklimat khusus adalah faktor suhu udara, kelembaban dan sinar matahari. Suhu udara, mesekipun bisa diatasi (direkayasa) namun hasilnya asti tidak akan optimal. Padahal, ada jenis anggrek yang memerlukan suhu dingin, ada pula yang menyukai panas. Phalaenopsis, paphiopedillum, cymbidium misalnya, menghendaki udara dingin. Sementara dendrobium, vanda dan oncidium lebih menyukai tempat panas. Karenanya kalau kita tinggal di Jakarta, Semarang atau Surabaya, kurang tepat memelihara phalaenopsis, terutama hibridanya. Phalaenopsis spesies, misalnya Phalaenopsis amabilis, bisa ditanam di dataran rendah yang panas, asalkan benih tanaman tersebut dari kawasan rendah. Misalkan Pandeglang Selatan. Phalaenopsis amabilis dari Puncak, kalau ditanam di Jakarta akan mati.

Faktor agroklimat ini, sedikit banyak masih bisa direkayasa dengan  mengatur sinar matahari dengan menggunakan paranet. Hingga sinar matahari yang masuk hanya 40%, 50% atau 60%. Selain dengan mengatur sinar matahari, suhu udara juga bisa dikendalikan dengan gabungan kelembaban lingkungan dan angin. Disalah satu ruangan display penjual phalaenopsis hibrida, menggunakan cara mengguyurkan air di salah satu sisi ruangan sambil memasang blower besar. Dengan cara ini, udara akan senantiasa lembab. Karena angin juga bertiup kencang dari blower, maka uap air di ruangan itu akan segera terbang keluar. Panas yang ada di ruangan, akan terus menerus digunakan untuk menguapkan air yang mengalir dari salah satu sisi ruangan. Hingga suhu ruangan pun akan terasa lebih sejuk, namun tetap lembab.

Tentu ada pertanyaan, mengapa tidak digunakan AC sentral agar ruangan display phalaenopsis itu selalu dingin? Udara ruangan ber AC, selain dingin juga kering. Hingga anggrek phalaenopsis yang bersepal juga petal lebar itu akan cepat sekali layu. Selain itu, biaya untuk memasang AC di suatu ruang display anggrek juga cukup tinggi. Pada event pameran dan lomba tanaman hias di ruang ber AC, misalkan di Balai Sidang Jakarta, penjaga stand selalu secara rutin akan menyemprotkan kabut air  dari hand sprayer. Kalau penjaga stand terlambat menyemprotkan uap air, maka bunga yang dipajang akan segera layu. Dengan prinsip ini, untuk memulai kegiatannya, penganggrek pemula harus membangun greenhouse dengan paranet, dan instalasi air untuk menjaga kelembaban ruang dalam greenhouse tersebut.

Greenhouse anggrek bisa dibangun dengan kerangka bambu, kayu, besi dan beton dengan kawat untuk menahan paranet. Selain itu untuk kerangka greenhouse, bahan-bahan tadi juga masih diperlukan guna membuat rak tempat tanaman diletakkan. Di bawah rak besi itu biasanya juga dibangun kolam memanjang. Tujuannya untuk menjaga agroklimat mikro agar selalu lembab. Lantai greenhouse biasanya juga dibangun dari batu bata telanjang. Sebab batu bata akan mampu meyerap air dari dalam tanah dan menguapkannya. Selain itu permukaan batu bata juga bertekstur kasar sehingga tidak licin. Kolam di bawah rak anggrek dalam greenhouse, biasanya digunakan untuk menanam tanaman hias yang tahan naungan dan kelembaban. Misalknya florida beauty.

Sumber air untuk budidaya anggrek skala rumah tangga sebagai hobi, bisa berasal dari air sumur. Air itu sebaiknya ditampung dalam reservoar, tetapi untuk mendistribusikannya ke tanaman diperlukan pompa khusus bertekanan tinggi. Pendistribusian air bisa dilakukan secara manual dengan  selang dan pistol bernozel. Umumnya penganggrek kita menyiram tanaman mereka dengan cara manual atau dengan sprikle. Agar nozel sprinkle tidak macet, air harus senantiasa dikontrol kandungan mineralnya. Selain bisa memacetkan nozel, kandungan mineral yang berlebihan juga akan mengganggu pertumbuhan anggrek. Sumber air untuk budidaya anggrek bisa berasal dari sumur maupun sumber air lainnya, asalkan kualitas airnya cukup baik.

Lokasi budidaya anggrek juga akan sangat menentukan tingkat keberhasilan. Taman Anggrek Ragunan, dulunya dirancang oleh Dinas Pertanian DKI sebagai lokasi budidaya, sementara lokasi pemasarannya di Taman Anggrek Indonesia Permai (TAIP) di Taman Mini, serta di pasar Rawa Belong. Namun anggrek yang dibudidayakan di Taman Anggrek Ragunan sulit sekali untuk berbunga. Padahal, sinar matahari dan kelembaban cukup. Pupuk dan air juga sudah diberikan optimal. Hama berupa kumbang gajah, gulma lumut dan penyakit karena cendawan serta bakteri juga tidak ada. Setelah diselidiki, ternyata kawasan Taman Anggrek Ragunan berada disebuah cekungan yang dikelilingi oleh banyak pohon dan bangunan. Hingga angin tidak pernah bertiup cukup disana. Hingga apabila sang panas terik, udara menjadi sangat panas dan lembab. Dalam kondisi demikian, tanaman akan tumbuh lamban dan sulit berbunga.

Itulah sebabnya banyak hobiis anggrek di Jakarta, yang membangun greenhouse mereka di atas dak di atap rumah. Selain sinar mataharinya bisa optimal, anginpun bisa bertiup kencang di atas rumah. Meskipun hanya sekadar untuk hobi, penentuan lokasi ini akan sangat menentukan tingkat keberhasilan  budidaya anggrek. Bahkan disebutkan, apabila agroklimat  mikro ini sudah memenuhi syarat, tanaman yang hanya digeletakkan atau dicantelkan di bawah paranet pun akan tumbuh subur dan rajin berbunga.

Syarat suhu udara, sinar matahari, kelembaban dan angin ini pun sebenarnya hanya berlaku di dataran rendah. Di Lembang, Batu atau Ciwidey, karena suhu sudah dingin dan banyak anggrek, para anggrek justru melapis paranet dengan plastik bening, agar udara sedikit lebih hangat dan tetap lembab.

Setelah agroklimat mikro bisa diciptakan, tanaman juga masih memerlukan pot, media tanam, pukuk, zat perangsang tumbuh dan pestisida. Untuk memberikan pupuk dan pestisida dibutuhkan sprayer. Untuk memulai hobi berskala rumah tangga bagi seorang pemula, idealnya greenhouse dibangun dengan ukuran kurang dari 100 meter persegi. Dengan pertimbangan bukan faktor biaya melainkan untuk menjaga tingkat keberhasilannya. Semakin luar greenhousenya, tingkat keberhasilan pemula akan semakin rendah.

Jenis-jenis anggrek yang akan dibudidayakan pun harus dibatasi yang mudah berbunga dan cocok untuk dataran rendah. Sebab umumnya kota-kota besar di Indonesia, termasuk di Jawa, selalu berlokasi di dataran rendah. Anggrek yang cocok di dataran rendah dan rajin berbunga adalah dendrobium, oncidium dan vanda.

 

Artikel pernah dimuat di buku kenangan  Jakarta Orchid Festival 2006

Penulis; F. Rahardi